Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

(VIDEO) TUJUH UPAYA MASYARAKAT PRA AKSARA UNTUK BISA MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP


muhammad rifai fajrin


Oleh Muhammad Rifai Fajrin
*catatan: Artikel ini saya buat dalam rangka memenuhi tugas diskusi Daring sewaktu saya mengkuti kegiatan Pendidikan Profesi Guru Sejarah  angkatan IV tahun 2019 di UNS, dan ditulis berdasarkan tema diskusi daring yang diminta. Apabila ada ketidaksesuai/kesalahan yang diketahui kelak di kemudian hari, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Zaman pra aksara dimulai sejak munculnya manusia pertama kali di bumi. Manusia diyakini telah ada pada zaman kuarter, yaitu pada masa pleistocen, sekitar 2 juta-10.000 tahun yang lalu.  

Mereka hidup dalam keadaan primitif. Pada awal kemunculannya, mereka hidup bergantung pada alam. Hidup secara berpindah-pindah alias nomaden. Mereka juga belum mengenal tulisan. 

Hidup di alam yang liar, penuh dengan ancaman binatang buas, dan alam yang rentan terjadi bencana. Dalam keadaan seperti itu, mereka dituntut untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 

Untungnya, manusia dibekali dengan akal. Inilah yang membedakan dengan makluk lainnya. Sebut saja misalnya hewan-hewan berukuran besar yang hidup di zaman sekunder (zaman reptil) kira-kira 140 juta tahun yang lalu, punah karena tak mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kini hanya tinggal fosil saja. 

Tetapi manusia, bisa beradaptasi dari waktu ke waktu dengna memanfaatkan akal pikirannya. Inilah yang menyebabkan mereka mampu mempertahankan keberlangusngan hidup dengan berbagai cara.

Saya menguraikan setidaknya ada beberapa cara manusia untuk bertahan hidup; diantaranya adalah sebagai berikut;   

1. Hidup dengan cara mengumpulkan makanan (food gathering) dan berkembang ke food producing

Mengumpulkan makanan adalah cara paling klasik dan umum yang dilakukan oleh manusia yang hidup pada zaman purba. Keadaan alam yang berlimpah sumber makanan, memungkinkan manusia menggantungkan segala macam kebutuhannya pada alam. 

Ketika persediaan makanan habis, maka mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka hidup dengan cara tidak menetap (nomaden). Dengan akalnya, mereka mampu menjangkau dan mendapatkan sumber-sumber makanan baru. 

2. Pola hunian turut menentukan keberlangsungan hidup manusia

Manusia purba memiliki pola hunian mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat yang kompleks.

Misalnya pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, maka pola hunian mereka masih berpindah-pindah atau nomaden, tidak menetap. Mereka cenderung mencari tempat yang dekat dengan sumber-sumber air. 

Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, mereka hidup menetap secara sementara dan tinggal di gua-gua tempat tinggal yang disebut abris sous roche. Abris sous roche bisa saja hanya berupa ceruk atau cekungan yang menjorok ke dalam. Ceruk itu sudah cukup disebut sebagai abris sous roche, tempat tinggal sementara manusia purba. 

Pada masa berikutnya, ketika terjadi revolusi kehidupan dari food gathering ke food producing, tentu saja juga mengubah pola hunian manusia pada masa itu menjadi sedenter atau menetap secara permanen.

Ditandai dengan munculnya perkampungan-perkampungn dengan jumlah masyarakat semakin besar. Hingga kemudian disebut sebagai desa. Mereka mengelola kehidupan mereka dengan menerapkan system pemerintahan sederhana.

Kemampuan manusia untuk mengolah ide-ide mereka menggunakan akal sehingga tercipta suatu perubahan pola hunian, turut andil menyebabkan mereka bisa mempertahakan keberlangsungan kehidupan mereka. 
3. Kemampuan menciptakan alat yang berguna

Dengan akalnya, manusia mampu menciptakan alat untuk membantu memudahkan kehidupannya. Alat diciptakan awalnya dengan bentuk,  fungsi, dan cara pembuatannya yang sederhana pada awal peradaban manusia (zaman batu tua). 

Seiring berjalannya waktu, mereka menyempurnakan alat-alat buatan mereka. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa alat yang mereka ciptakan, sekalipun berbahan dasar sama, yaitu batu, tetapi dalam pembuatan berikutnya (di zaman selanjutnya, yaitu mesolithikum, neolithikum) telah dikerjakan dengan lebih baik, halus, massif, dan memiliki fungsi guna yang beragam. 

Semakin lama, alat yang dihasilkan semakin kompleks. Alat yang pada zaman paleolithikum sebatas berfungsi untuk mendapatkan makanan, pada zaman neolithikum alat yang dihasilkan adalah untuk memproduksi makanan. Misalnya alat berupa kapak persegi, kapak lonjong dan beberapa alat dari logam, menunjukkan kompleksitas fungsi alat.

Semua itu tidak lepas dari akal manusia untuk senantiasa berpikir, sehingga menghasilkan kebudayaan yang tinggi.

4. Hidup berkelompok untuk mencegah mara bahaya dari luar

Manusia purba hidup secara berkelompok dalam suatu kelompok kecil, sekitar 8 hingga 15 orang. Manusia adalah makhluk sosial, Zoon politicon. Begitu kata Aristoteles. Manusia (zoon; diartikan termasuk sebagai hewan) senantiasa membutuhkan manusia lain untuk berinteraksi. Tidak ada satupun manusia yang mampu hidup sendirian.

muhammad rifai fajrin
hidup berkelompok

Fungsi hidup berkelompok ini adalah, memudahkan mereka dalam melakukan pembagian tugas. Para pakar menyebutkan bahwa telah ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan dalam kelompok kecil tersebut. 

Laki-laki bertugas mengumpulkan dan mendapatkan makanan, dan berburu hewan secara berkelompok. Adapun perempuan, tugasnya adalah menjaga makanan yang telah dikumpulkan, serta mengasuh anak (keturunan). Kelak melalui jasa para perempuan ini, mereka mampu memilah manakah makanan yang mampu bertahan lama, yang dapat tumbuh bijinya menjadi sebuah tanaman baru, serta manakah makanan yang baik dan buruk untuk tubuh mereka. 

Hidup berkelompok juga bermanfaat untuk menghalau binatang buas. Mereka menggunakan akal mereka untuk mencegah binatang buas mendekati kelompok mereka. Misalnya degnan menyalakan api, atau menjebaknya untuk dijadikan sebagai makanan bagi kelompok mereka.

5. Menemukan api

Penemuan api merupakan salah satu penemuan paling penting manusia. Dengan api, memungkinkan mereka melakukan banyak hal. Di antaranya memanggang daging buruan, menghangatkan tubuh, menghalau binatang buas, hingga membuka lahan baru [dengan teknik slash and burn – tebang dan bakar] untuk mereka tempati. 

Api juga berguna untuk mendukung aktivitas kebudayaan dan religi mereka kelak. Dengan api mereka menyelenggarakan ritual-ritual tertentu yang berkaitan dengan nenek moyang. Hasil-hasil budaya dari logam pada zaman berikutnya, dibuat dengan teknik a cire perdue yang membutuhkan api sebagai sarana melelehkan lilin model yang mereka buat.

Namun di antara sekian banyak kegunaan api di atas, fungsi paling utama dan paling awal bagi manusia adalah untuk mempertahankan kehidupan mereka. Api memungkinkan mereka untuk tidak kedinginan menghadapi cuaca dan iklim yang tak menentu.

6. Beradaptasi dengan iklim dan cuaca

Salah satu proses adaptasi paling penting yang dilakukan manusia pada zaman purba adalah mereka mampu mengenali gejala-gejala alam. Mereka mengamati kebiasaan kebiasaan alam yang secara tidak langsung berpengaruh pada kehidupan mereka. Contoh sederhana, mereka menyaksikan petir yang menyambar pepohonan menimbulkan percikan api. 

Dari peritiwa itu mengilhami mereka untuk bagaimana membuat/menciptakan api yang ternyata bermanfaat di kemudian hari, sebagaimana yang saya sampaikan di poin nomor 5.

Kemampuan beradaptasi lainnya misalnya mereka melihat biji-bijian yang awalnya dibuang begitu saja, lambat laun ternyata tumbuh menjadi satu tanaman baru yang tentunya menjadi sumber makanan baru. Proses inilah yang menyebabkan nantinya terjadi suatu revolusi kebudayaan yang mengubah corak kehidupan manusia. Dimana sebelumnya mereka bergantung pada alam (food gathering) menjadi bercocok tanam (food producing). 

7. Mengenakan pakaian

Salah satu faktor penting berikutnya yang dihasilkan manusia menggunakan akalnya adalah mengenal pakaian. Manusia memakai kulit binatang, tumbuh- tumbuhan untuk menutupi tubuh mereka.

Cuaca dan iklim turut menentukan gaya berpakaian manusia pada masa purba. Manusia purba yang hidup di daerah dingin menutupi tubuhnya dengan kulit binatang, misalnya kulit domba yang berbulu tebal. 

Sedangkan manusia purba yang hidup di daerah panas, melindungi tubuh mereka dengan memanfaatkan kulit pepohonan yang direndam terlebih dahulu lalu dipukul – pukul dan dikeringkan. 

Selain itu mereka juga menggunakan dedaunan dan rumput. Sebelum mengenal tenunan, manusia pada zaman dahulu mengenakan pakaian hanya pada bagian-bagian tertentu saja, seperti pada bagian dada atau pada lingkar pinggang atau panggul. 

Bahan yang digunakan didapat dari lingkungan sekitar, baik berupa kulit binatang, kulit batang bahkan daun. Fungsinya juga hanya sebagai penutup bagian tertentu pada tubuh.
Kemampuan mengolah benda-benda di sekitarnya menjadi benda tepat guna seperti pakaian inilah yang menyebabkan manusia mampu bertahan mempertahankan keberlangsungan hidupnya.



Demikianlah artikel singkat saya tentang tujuh upaya masyarakat pra aksara untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. semoga bermanfaat. []

Post a Comment for "(VIDEO) TUJUH UPAYA MASYARAKAT PRA AKSARA UNTUK BISA MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP "

Berlangganan via Email