Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SELAIN PERISTIWA SEJARAH, SEJARAWAN JUGA MENGKAJI PERUBAHAN SOSIAL

muhammad rifai fajrin

Oleh Muhammad Rifai Fajrin
*catatan: Artikel ini saya buat dalam rangka memenuhi tugas diskusi Daring sewaktu saya mengkuti kegiatan Pendidikan Profesi Guru Sejarah  angkatan IV tahun 2019 di UNS, dan ditulis berdasarkan tema diskusi daring yang diminta. Apabila ada ketidaksesuai/kesalahan yang diketahui kelak di kemudian hari, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Nilai sejarah lebih dari sekedar peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Artinya bukan sekedar catatan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia di dunia ini. Tetapi sejarah lebih dari itu.

Sebagaimana diketahui, Dalam sejarah terdapat dua konsep penting, yaitu perubahan dan keberlanjutan. Keberlanjutan disebut kontinyuitas, sedangkan perubahan disebut diskontinyuitas.

Perubahan adalah bagian tak terpisahkan dalam sejarah. Perubahan bisa berupa peristiwa sejarah. Perubahan juga  dapat berupa perubahan bentuk pemerintahan, penemuan baru, perubahan nilai budaya dan sebagainya. 

Perubahan dapat membawa dari satu periode ke periode lain. Perubahan dapat berlangsung secara cepat dan mendadak (revolusi) atau bertahap dan dalam waktu lama (evolusi).

Ada satu gerak perubahan dari masing-masing peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Gerak perubahan tersebut sering diistilahkan gerak transformasi peristiwa atau kejadian. 

Perubahan-perubahan inilah yang kemudian dicatat sebagai sebuah titik fokus penulisan sejarah. Tidak hanya sekedar sebagai peristiwa yang melibatkan manusia semata.

Fokus kejadian pada masa lalu ditelaah oleh para sejarawan untuk mendapatkan hikmah dan makna dari suatu peristiwa masa lampau. Sebab, antara satu peristiwa sejarah dengan satu peristiwa lainnya selalu memiliki keterkaitan (antara masa lampau dengan masa yang sekarang).

Konsep sejarah kontinyuitas dan diskoninyuitas bermanfaat untuk menghubungkan atau mengaitkan antara sejarah dengan masa sekarang dimana beberapa hal yang terjadi dalam sejarah masa lampau masih digunakan di masa sekarang yang relevan.

CONTOH DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

Dalam pembelajaran, saya sering ulas tentang perilaku masyarakat masa lampau yang ternyata masih relevan dengan permasalahan sekarang untuk menerangkan konsep kontinuitas ini. 

Contoh pertama, Misalnya, hasil penelaahan prasasti Tugu pada kerajaan Tarumanegara, mengisyaratkan bahwa sesungguhnya telah ada upaya untuk menanggulangi banjir yang disebabkan karena luapan sungai. 

Dalam Prasasti Tugu dikatakan bahwa dalam tahun pemerintahannya yang ke-22, Raja Purnawarman telah menggali sebuah sungai yang disebut Gomati, yang panjangnya 6122 busur (kira-kira 12 km) dalam waktu 21 hari disamping sungai yang telah ada, ialah sungai Candrabhaga.

Adapun menurut interpretasi ahli sejarah, sungai candrabaga saat ini adalah sebuah sungai yang terletak di Bhagasasi-Bagasi- atau Bekasi pada masa sekarang. 

Dari contoh di atas, dapat kita tarik sebuah alasan sederhana, mengapa sejarawan menitikberatkan pada perubahan sosial masyarakat akibat suatu peristiwa tertentu daripada sekedar catatan peristiwa sejarah. Dalam penggalian sungai candrabaga, alasan penggaliannya adalah disebabkan karena luapan banjir tahun yang berpotensi merusak lahan pertanian mereka. 
Oleh sebab itu, raja Purnawarman melakukan penggalian untuk mencegah pendangkalan sungai, membuat saluran irigasi untuk mengairi sawah sawah mereka, membuat tanggul dan waduk untuk kemakmuran masyarakatnya.

Kondisi di atas tentu menjadi relevan mengingat hingga zaman VOC, sampai kini pada masa pemerintahan Gubernur Anies Baswedan, banjir merupakan satu masalah kompleks yang wajib dipecahkan. 

Persoalannya adalah terdapat perbedaan kultur sosial budaya masyarakat zaman Tarumanegara, VOC, Jakarta di masa Gubernur Ali Sadikin, hingga Gubernur Anies. Untuk menanggulangi banjir mestinya mengupayakan supaya tidak ada hambatan pada aliran sungainya. 

Maka kebijakan yang diambil – apapun namanya – entah naturalisasi sungai atau normalisasi sungai, maka yang harus dilakukan adalah meminimalisir hambatan aliran air yang menuju ke laut. Sesederhana itu sejarawan memandang persoalan banjir di DKI yang konon berasal dari hulu (kawasan bogor).
Contoh kedua, yang saya berikan kepada siswa-siswi saya di kelas terkait dengan konsep kontinuitas dan diskontinyuitas yang berkaitan dengan gerak transformasi sosial masyarakat, misalnya terkait dengan moda transportasi umum di ibukota DKI Jakarta.

Pada dasarnya, transportasi dibutuhkan setiap manusia. Padatnya aktivitas manusia (warga) di DKI membutuhkan dukungan transportasi. Barangkali, pada masa lampau, delman, bemo, opelet, helicak, bajaj, mikrolet, biskota yang berlalu lalang menjemput penumpang dari satu kawasan ke kawasan lain merupakan pemandangan sehari-hari yang biasa menghiasi kehidupan kita.

Namun seiring dengan perubahan zaman, kepadatan penduduk yang meningkat, serta kompleksitas aktivitas manusia yang menuntut perpindahan dari satu kantor ke kantor lain, ditambah banyaknya produksi mobil dan sepeda motor pribadi menimbulkan satu persoalan baru di DKI, yaitu problem kemacetan.

Kemacetan menjadi suatu permasalahan yang serius di DKI, apalagi jika tidak segera ditangani. Keterlambatan seseorang di lokasi tujuan sangat berpengaruh terhadap gerak roda perekonomian secara mikro (individu). Dampaknya secara makro adalah perekonomian mungkin bergerak kurang signifikan meskipun meningkat. 

Akan lebih baik apabila moda transportasi massal mulai dipikirkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Maka lihatlah di DKI saat ini konon telah diterapkan aturan ganjil genap. Apakah hal itu secara signifikan akan mengurangi potensi kemacetan? Sama sekali tidak. Sebab bisa saja orang kaya memiliki dua mobil dengan dua buah plat nomer yang berbeda, satu ganjil, satu genap. Artinya butuh suatu terobosan yang dapat dirasakan secara langsung gagasan tersbut mampu mengurai persoalan tentang kemacetan.

Konsep perubahan-perubahan inilah yang saya sampaikan kepada peserta didik, tidak heran saat ini peristiwa kemacetan pun menjadi bahan kajian tersendiri. Bahkan bermunculan pakar-pakar yang khusus mengamati masalah transportasi, sebut saja yang sering muncul di televisi, Bapak Darmaningtyas. Atau pengamat kebijakan publik lainnya. Inilah konsekuensi dari sebuah peristiwa perubahan sosial masyarakat. Peserta didik wajib membuka pemikiran dan pemahaman terkait dengan perubahan-perubahan tersebut. Perubahan adalah keniscayaan, siapa mau berubah maka ia mampu beradaptasi. Siapa enggan berubah, maka dipastikan punah. 

Contohnya bagaimana transportasi online menggusur ojek dan taksi konvensional. Pada awalnya mungkin terjadi polemik di mana-mana, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ada dua hal yang dilakukan oleh pelaku konvensional, yaitu pertama bergabung dengan kompetitornya, atau kedua, yaitu berbenah memperbaiki kualitas pelayanan. []

Post a Comment for "SELAIN PERISTIWA SEJARAH, SEJARAWAN JUGA MENGKAJI PERUBAHAN SOSIAL"

Berlangganan via Email