(VIDEO) : LANGKAH DAN CARA UNTUK MENDAPATKAN FAKTA SEJARAH YANG VALID

muhammad rifai fajrin
materi sejarah

Oleh Muhammad Rifai Fajrin


*catatan: Artikel ini saya buat dalam rangka memenuhi tugas diskusi Daring sewaktu saya mengkuti kegiatan Pendidikan Profesi Guru Sejarah  angkatan IV tahun 2019 di UNS, dan ditulis berdasarkan tema diskusi daring yang diminta. Apabila ada ketidaksesuai/kesalahan yang diketahui kelak di kemudian hari, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Tulisan ini berangkat dari sebuah pertanyaan penting. Bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan penulis/peneliti sejarah untuk mendapatkan fakta sejarah yang valid, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah?

Untuk menjawabnya, terlebih dahulu kita ulas tentang maksud dari tulisan ilmiah.

Maksud tulisan Ilmiah

Tidak semua tulisan sejarah dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Ilmiah adalah; segala sesuatu yang bersifat keilmuan, didasarkan pada ilmu pengetahuan yang memenuhi syarat atau kaidah ilmu pengetahuan.

Segala sesuatu – apapun bentuknya – jika dibuat berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan, dapat disebut ilmiah. 

Penyebutannya bisa menjadi metode ilmiah, penelitian ilmiah, karya ilmiah, artikel ilmiah dan lain sebagainya.

BACA JUGA: 
muhammad rifai fajrin
langkah heuristik

Langkah dan cara untuk mendapatkan fakta sejarah yang valid

Langkah dan cara untuk mendapatkan fakta sejarah yang valid menurut saya ya harus menggunakan kaidah metodologi penelitian sejarah yang baku. 

Tiap langkah dan prosesnya haruslah dilakukan dengan seksama dan penuh kehati-hatian. 

Beberapa hal yang harus ditekankan untuk mendapatkan fakta sejarah yang valid pada masing-masing tahap penelitian sejarah adalah sebagai berikut.

1) Proses Heuristik

Kita harus tahu terlebih dahulu karakteristik sumber yang ditemukan. Termasuk sumber primer (Sumber primer: berasal langsung dari para pelaku sejarah, seperti naskah, prasasti, artefak, dokumen-dokumen, foto, bangunan, catatan harian, hasil wawancara, video, dll) ataukah sumber sekunder (yang bukan dari pelaku sejarah, misalnya laporan penelitian, ensiklopedia, catatan lapangan peneliti, buku, dll). 

Kemudian dalam pengumpulan sumber harus memperkaya diri dengan kemampuan-kemampuan berikut (tidak asal nemu);
  • Penguasaan bahasa: bahasa yang digunakan dalam sumber sejarah bukanlah bahasa yang dipakai saat ini, sehingga sulit dipahami. Misalnya, Bahasa Indonesia kuno atau Bahasa Belanda kuno.
  • Pemahaman atas usia sumber sejarah: banyak sumber sejarah yang usianya sudah tua, sehingga sangat rapuh jika disentuh/digunakan.
  • Mengetahui cara mengakses sumber sejarah: tidak semua orang bisa mengakses sumber sejarah yang dibutuhkan.
  • Kemampuan memecahkan masalah yang sulit dipahami: ada beberapa catatan sejarah yang menggunakan tulisan tangan dan terkadang sulit dipahami.

2) Proses kritik sumber (verifikasi)

Dalam melakukan kritik atau verifikasi, kita juga dituntut untuk selalu berhati-hati dalam proses ini. 

Metode untuk autentikasi (membuktikan sumber sejarah yang bersangkutan adalah asli) dan kredibilitas sumber sejarah. Ada dua macam kritik yang dilakukan:

Kritik estern (autentisitas): kritik terhadap keakuratan dan keaslian sumber, seperti materi sumber sejarah (dokumen dengan tulisannya) dan para pelaku sejarahnya. Aspek yang dikaji adalah waktu (penanggalan), bahan pembuat sumber, dan pembuktian keaslian.

Kritik intern (kredibilitas): kritik terhadap kredibilitas sumber. Artinya, peneliti perlu menguji isi (konten) sumber, baik secara kebendaan maupun tulisan. 
Kritik intern yang dapat dilakukan misalnya; 1) melihat usia informan. Semakin tua usianya, umumnya daya ingat dan kemampuan panca inderanya sudah berkurang. 2) Menganalisis peran informan dalam peristiwa sejarah yang sedang diteliti. 3) Melakukan cek silang antara informan satu dengan informan lainnya.

3) Eksplanasi/penafsiran/interpretasi

Melakukan penafsiran akan makna atas fakta-fakta yang ada serta hubungan antara berbagai fakta yang harus dilandasi oleh sikap objektif. 

Kalaupun membutuhkan sikap subjektif, haruslah subjektif rasional. 
Rekonstruksi peristiwa sejarah disampaikan secara deskriptif dan harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran. Ada dua cara melakukan interpretasi, yaitu analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan).

Pada metode ketiga ini, peneliti dituntut untuk berimajinasi yang terbatas. Batasan di sini adalah fakta-fakta sejarah yang ada tidak boleh menyimpang. Selain itu peneliti harus sangat berhati-hati karena di sini sangat rentan bagi peneliti untuk memasukkan sisi subjektifnya.

4) Historiografi/Penulisan Sejarah

Metode terakhir adalah historiografi. Penulisan sejarah merupakan upaya peneliti sejarah dalam melakukan rekonstruksi sumber-sumber yang telah ditemukan, diseleksi, dan dikritisi. Pada tahap ini, peneliti perlu memperhatikan beberapa kaidah penulisan, seperti;
  • 1) bahasa dan format penulisan yang digunakan harus baik dan benar menurut tata bahasa.
  • 2) Memperhatikan konsistensi, misalnya penggunaan tanda baca, penggunaan istilah, dan rujukan sumber.
  • 3) Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai konteks permasalahannya.
Demikianlah artikel singkat tentang cara mendapatkan fakta sejarah yang valid. Untuk siswa siswi saya, semoga anda dimudahkan dalam belajar. Tetap semangat dan sehat selalu. Terimakasih. Wassalam.


Post a Comment for "(VIDEO) : LANGKAH DAN CARA UNTUK MENDAPATKAN FAKTA SEJARAH YANG VALID"

Berlangganan via Email