Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BAGAIMANA PERKEMBANGAN AGAMA DAN BUDAYA HINDU BUDHA DI INDONESIA?

muhammad rifai fajrin


Oleh Muhammad Rifai Fajrin

*catatan: Artikel ini saya buat dalam rangka memenuhi tugas diskusi Daring sewaktu saya mengkuti kegiatan Pendidikan Profesi Guru Sejarah  angkatan IV tahun 2019 di UNS, dan ditulis berdasarkan tema diskusi daring yang diminta. Apabila ada ketidaksesuai/kesalahan yang diketahui kelak di kemudian hari, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Agama hindu dan buddha adalah dua agama yang masuk paling awal di Indonesia. Khususnya agama hindu, masuknya agama hindu sekaligus mengakhiri zaman praaksara, yaitu dengan ditemukannya sebuah prasasti berbentuk Yupa sebanyak tujuh buah prasasti. 

Yupa tersebut, selain sebagai bukti awal perkembangan agama Hindu di Indonesia juga sebagai sumber sejarah kerajaan kutai sebagai pemerintahan pertama di Indonesia.

BAGAIMANA PERKEMBANGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU BUDDHA DI INDONESIA?

Agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia diperkirakan pada permulaan masehi, dimana Indonesia berperan aktif dalam hubungan perdagangan antar wilayah, khususnya perdagangan laut. Adapun masa Hindu-Buddha sendiri berlangsung selama kurang lebih 12 abad. Dalam kurun waktu yang sangat panjang tersebut, secara garis besar masa hindu buddha dapat dibagi menjadi tiga babak.

1) Periode pertumbuhan, terjadi dimulai ketika terjadi hubungan atau kontak dengan para pedagang dari India. Kontak inilah yang kemudian menyebabkan adanya perkenalan kebudayaan masyarakat nusantara dengan agama dan kebudayaan India. 

Beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh kontak ini antara lain di bidang arsitektur/seni bangunan, aksara, pemerintahan, agama dan kepercayaan, sistem penanggalan, dan sistem sosial. Sampai saat ini, bukti-bukti tentang adanya pengaruh kebudayaan dan agama Hindu Buddha di Indonesia masih banyak dijumpai.

2) Adapun periode kedua adalah periode perkembangan, dimana telah muncul dan berkembang kerajaan tradisional bercorak Hindu Buddha di nusantara, diantaranya adalah kerajaan Kutai yang merupakan kerajaan tertua di nusantara, Tarumanegara yang merupakan kerajaan tertua di Jawa, serta kerajaan kerajaan lain, misalnya kerajaan Sriwijaya, Kalingga, Kediri, Singasari, Majapahit dan lain-lain. 

Periode ini berlangsung sangat lama. Selama itu pula banyak dihasilkan kebudayaan berupa seni bangunan, kesusastraan berupa kitab-kitab yang digubah oleh para pujangga pada masa klasik.

3) Periode terakhir, yaitu periode kemunduran/keruntuhan kebudayaan Hindu Buddha di Indonesia. keruntuhan di sini bukan berarti sama sekali menghilangkan pengaruh Hindu Buddha di Indonesia, melainkan pengaruh tersebut tergeser oleh dominasi pengaruh agama dan kebudayaan Islam ke nusantara. 

Apalagi diketahui bahwa sebenarnya pada masa kejayaan Hindu (misalnya di masa kerajaan Majapahit). agama dan kepercayaan Islam telah masuk dengan adanya Komunitas muslim di beberapa wilayah nusantara. 

Hal ini dibuktikan dengan adanya makam muslim di Trowulan. Oleh sebab itu, kiranya perkembangan agama Islam tinggal menunggu waktu saja. Perkembangan Islam mencapai puncaknya pada abad ke-15 agama islam mulai mendominasi Nusantara.

Namun, tidak berarti pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha hilang tergantikan kebudayaan Islam. Agama Islam mengakomodasi peninggalan Hindu-Buddha, tentunya dengan melakukan modifikasi agar tetap berselang beberapa abad, wujud peradaban Hindu-Buddha masih dapat kita saksikan hingga sekarang, misalnya dalam perwujudan sastra dan arsitektur.

1) PERIODE PERTUMBUHAN 

Periode ini ditandai dengan masuknya agama hindu dan buddha melalui kontak antara bangsa Indonesia dengna pihak dari luar. Yaitu dengan para pendeta (kaum brahmana), dengan utusan luar negeri (para prajurit dan bangsawan), dengan pedagang yang singgah, atau golongan masyrakat biasa yang dapat ke nusantara.

Adanya kontak inilah yang kemudian mengilhami para ahli untuk membuat suatu hipotesis (dugaan) tentang proses masuknya agama dan kebudayaan hindu buddha di Indonesia.

Hipotesis itu antara lain adalah hipotesis brahmana, ksatria, waisya, dan sudra, serta ditambah dengan hipotesis arus balik, dan avonturir.

Teori Brahmana

Teori ini dikemukakan JC. Van Leur, FDK. Bosch dan OW. Wolters yang berpendapat bahwa orang yang ahli agama Hindu adalah brahmana. Orang Indonesia/ kepala suku aktif mendatangkan brahmana untuk mengadakan upacara abhiseka secara Hindu, sehingga kepala suku menjadi maharaja. Dalam perkembangannya, para brahmana akhirnya menjadi purohito (penasehat raja).

Teori ini dianggap lebih mendekati kebenaran karena agama Hindu bersifat tertutup, dimana hanya diketahui kalangan brahmana. Prasasti yang ditemukan berbahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Candi yang ada di Indonesia banyak ditemukan arca Agastya. Disamping itu brahmana di Indonesia berkaitan dengan upacara Vratyastoma dan abhiseka.

Teori Ksatria

Teori ini juga disebut teori prajurit atau kolonisasi yang dikemukakan CC. Berg dan FDK. Bosch. FDK. Bosch menggunakan istilah hipotesa ksatria. Menurut teori ini, peran utama masuknya budaya India ke Indonesia adalah ksatria. 
Hal ini disebabkan di India terjadi kekacauan politik yaitu perang brahmana dengan ksatria, para ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka mendirikan kerajaan dan menyebarkan agama Hindu. Pendukung teori ini kebanyakan sejarawan India, terutama Majumdar dan Nehru.

Hipotesis ksatria banyak mengandung kelemahan yaitu tidak adanya bukti kolonisasi baik di India maupun di Indonesia. Kedudukan kaum ksatria dalam struktur masyarakat Hindu tidak memungkinkan menguasai masalah agama Hindu dan tidak nampak pemindahan unsur masyarakat India (sistem kasta, bentuk rumah, pergaulan dan sebagainya). Tidak mungkin para pelarian mendapat kedudukan sebagai raja di tempat yang baru.

Teori Waisya

Tampaknya teori ini mengambil perbandingan proses penyiaran Islam yang juga dibawa pedagang. Teori ini juga dibantah ahli lain, karena tidak setiap orang boleh menyentuh kitab Weda. Ajaran Hindu milik kaum brahmana dan hanya mereka yang memahami kitab Weda.

Teori ini dikemukakan NJ. Krom dan Mookerjee yang berpendapat; orang India tiba ke Asia tenggara pada umumnya dan khususnya Indonesia karena berdagang. Pelayaran perdagangan saat itu masih tergantung sistem angin muson. Sehingga pedagang India terpaksa tinggal di Indonesia selama beberapa saat untuk menanti bergantinya arah angin. bahkan menikah dengan orang indonesia dan kemudian aktif melakukan hubungan sosial tidak saja dengan masyarakat indonesia secara umum tetapi juga dengan pemimpin kelompok masyarakat. Lewat interaksi itu mereka menyebarkan dan memperkenalkan agama dan kebudayaan mereka.

Dari pernikahan dengan penduduk setempat, mereka menghasilkan keturunan. Dari keturunan dan keluarga pedagang ini merupakan awal penerimaan pengaruh India. Mereka bermukim di indonesia.

Teori Waisya di ragukan kebenarannya, jika para pedagang yang berperan terhadap penyebaran kebudayaan, maka pusat-pusat kebudayaan mestinya hanya terdapat di wilayah perdagangan saja, seperti di pelabuhan atau di pusat kota yang ada di dekatnya. Kenyataannya, pengaruh kebudayaan hindu ini banyak terdapat di wilayah pedalaman, seperti di buktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan bercorak hindu di pedalaman Pulau Jawa.

Kelebihan teori Waisya:

Banyaknya sumber daya alam di Indonesia membuat para Waisya (kelompok pedagang) tertarik untuk bertransaksi jual beli di Indonesia. Pada saat itu, kebanyakan pedagang yang datang ke Indonesia berasal dari India yang merupakan pusat agama hindu, sehingga ketika mereka berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran agama Hindu dan Buddha.

Kelemahan teori Waisya:

Para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana. Bahkan terdaoat bantahan para ahli terhadap teori waiya, diantaranya:

a. Motif mereka datang sekedar untuk berdagang bukan untuk menyebarkan agama Hindu sehingga hubungan yang terbentuk antara penduduk setempat bahkan pada raja dengan para saudagar (pedagang India) hanya seputar perdagangan dan tidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu.

b. Mereka lebih banyak menetap di daerah pantai untuk memudahkan kegiatan perdagangannya. Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang dan jika mereka singgah mungkin hanya sekedar mencari perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya atau untuk menunggu angin yang baik yang akan membawa mereka melanjutkan perjalanan. Sementara itu kerajaan Hindu di Indonesia lebih banyak terletak di daerah pedalaman seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Sehingga, penyebarluasan agama Hindu tidak mungkin dilakukan oleh kaum Waisya yang menjadi pedagang.

c. Meskipun ada perkampungan para pedagang India di Indonesia tetapi kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat itu, mereka yang tinggal menetap sebagaian besar hanyalah pedagang-pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Sehingga pengaruh budaya yang mereka bawa tidaklah membawa perubahan besar dalam tatanegara dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

d. Kaum Waisya tidak mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Hindu sebab yang bertugas menyebarkan agama Hindu adalah Brahmana. Lagi pula para pedagang tidak menguasai secara mendalam ajaran agama Hindu dikarenakan mereka tidak memahami bahasa Sansekerta sebagai pedoman untuk membaca kitab suci Weda.

e. Tulisan dalam prasasti dan bangunan keagamaan Hindu yang ditemukan di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang hanya digunakan oleh Kaum Brahmana dalam kitab-kitab Weda dan upacara keagamaan

Teori Arus Balik/ Nasional

Teori arus balik atau disebut teori nasional ini muncul dikemukakan JC. Van Leur, dimana sebagai dasar berpikir adalah hubungan antara dunia maritim dengan perdagangan. Hubungan dagang Indonesia dengan India yang meningkat diikuti brahmana untuk menyebarkan agama Hindu dan Budha. 
Orang-orang Indonesia yang tertarik ajaran itu, mengirimkan kaum terpelajar ke India untuk berziarah dan menuntut ilmu. Setelah cukup lama, mereka kembali ke Indonesia dan ikut menyebarkan agama Hindu- Budha dengan menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian ajaran agama lebih cepat diterima bangsa Indonesia. 

Periode ini ditandai dengan muncul dan berkembang kerajaan tradisional bercorak Hindu Buddha di nusantara, diantaranya adalah kerajaan Kutai yang merupakan kerajaan tertua di nusantara, Tarumanegara yang merupakan kerajaan tertua di Jawa, serta kerajaan kerajaan lain, misalnya kerajaan Sriwijaya, Kalingga, Kediri, Singasari, Majapahit dan lain-lain. 

Periode ini berlangsung sangat lama. Selama itu pula banyak dihasilkan kebudayaan berupa seni bangunan, kesusastraan berupa kitab-kitab yang digubah oleh para pujangga pada masa klasik.

Adapun pengaruhnya di berbagai kehidupan antara lain sebagai berikut:

a. Agama dan seni bangunan
System religi masa pra asara kemudian beralih menjadi agama hindu dan buddha. Hal ini dibuktikan dengan berbagai upacara yang dilakukan setelah hindu masuk ke nusantara. Sedangkan di bidang seni bangunan, tampak pada dibuatnya bangunan bercorak hindu buddha yaitu candi. Hingga kini masih banyak dijumpai bangunan candi tersebut.

b. Bidang politik dan pemerintahan
Pengaruhnya terlihat jelas dengan lahirnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia tampaknya belum mengenal corak pemerintahan dengan sistem kerajaan. Sistem pemerintahan yang berlangsung masih berupa pemerintahan kesukuan yang mencakup daerah-daerah yang terbatas. Pimpinan dipegang oleh seorang kepala suku bukanlah seorang raja.
Dengan masuknya pengaruh India, membawa pengaruh terhadap terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan bercorak Hindu antara lain Kutai, Tarumanagara, Kediri, Majapahit dan Bali, sedangkan kerajaan yang bercorak Buddha adalah Kerajaan Sriwijaya. Hal yang menarik di Indonesia adalah adanya kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Mataram lama.

c. Bidang pendidikan
Masuknya hindu buddha juga membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan. 

Akan tetapi lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Bukti bukti yang menunjukkan telah berkembangnya pendidikan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, antara lain adalah: 

1) Dalam catatan perjalanan I-Tsing, seorang pendeta yang berasal dari Cina, menyebutkan bahwa sebelum dia sampai ke India, dia terlebih dahulu singgah di Sriwijaya. Di Sriwijaya I-Tsing melihat begitu pesatnya pendidikan agama Buddha, sehingga dia memutuskan untuk menetap selama beberapa bulan di Sriwijaya dan menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha bersama pendeta Buddha yang ternama di Sriwijaya, yaitu Satyakirti. Bahkan I-Tsing menganjurkan kepada siapa saja yang akan pergi ke India untuk mempelajari agama Buddha untuk singgah dan mempelajari terlebih dahulu agama Buddha di Sriwijaya. 
Berita I-Tsing ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Buddha di Sriwijaya sudah begitu maju dan tampaknya menjadi yang terbesar di daerah Asia Tenggara pada saat itu. 
2) Prasasti Nalanda yang dibuat pada sekitar pertengahan abad ke- 9, dan ditemukan di India. Pada prasasti ini disebutkan bahwa raja Balaputradewa dari Suwarnabhumi (Sriwijaya) meminta pada raja Dewapaladewa agar memberikan sebidang tanah untuk pembangunan asrama yang digunakan sebagai tempat bagi para pelajar agama Buddha yang berasal dari Sriwijaya. 
Berdasarkan prasasti tersebut, kita bisa melihat begitu besarnya perhatian raja Sriwijaya terhadap pendidikan dan pengajaran agama Buddha di kerajaannya. Hal ini terlihat dengan dikirimkannya beberapa pelajar dari Sriwijaya untuk belajar agama Buddha langsung ke daerah kelahirannya yaitu India. 
3) Tidak mustahil bahwa sekembalinya para pelajar ini ke Sriwijaya maka mereka akan menyebarluaskan hasil pendidikannya tersebut kepada masyarakat Sriwijaya dengan jalan membentuk asrama-asrama sebagai pusat pengajaran dan pendidikan agama Buddha. 
4) Catatan perjalanan I-Tsing menyebutkan bahwa pendeta Hui-Ning dari Cina pernah berangkat ke Ho-Ling (salah satu kerajaan Buddha di Jawa). Tujuannya adalah untuk bekerja sama dengan pendeta Ho-Ling yaitu Jnanabhadra untuk menerjemahkan bagian terakhir kitab Nirwanasutra. Dari berita ini menunjukkan bahwa di Jawa pun telah dikenal pendidikan agama Buddha yang kemudian menjadi rujukan bagi pendeta yang berasal dari daerah lain untuk bersamasama mempelajari agama dengan pendeta yang berasal dari Indonesia. 
5) Pada prasasti Turun Hyang, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga menyebutkan tentang pembuatan Sriwijaya Asrama oleh Raja Airlangga. Sriwijaya Asrama merupakan suatu tempat yang dibangun sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan. 
Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Raja Airlangga terhadap pendidikan keagamaan bagi rakyatnya dengan memberikan fasilitas berupa pembuatan bangunan yang akan digunakan sebagai sarana pendidikan dan pengajaran. 
6) Istilah surau yang digunakan oleh orang Islam untuk menunjuk lembaga pendidikan Islam tradisional di Minangkabau sebenarnya berasal dari pengaruh Hindu-Buddha. 
Surau merupakan tempat yang dibangun sebagai tempat beribadah orang Hindu-Buddha pada masa Raja Adityawarman. Pada masa itu, surau digunakan sebagai tempat berkumpul para pemuda untuk belajar ilmu agama. Pada masa Islam kebiasaan ini terus dilajutkan dengan mengganti fokus kajian dari Hindu-Buddha pada ajaran Islam.

d. Bidang sastra dan bahasa
Dari segi bahasa, orang-orang Indonesia mengenal bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada aman kejayaan kerajaan Kediri. Karya sastra itu antara lain,

1) Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa yang disusun pada masa pemerintahan Airlangga. 
2) Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri. 
3) Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh disusun pada aman kerajaan Kediri. 
4) Arjuna Wijaya dan Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun 
5) pada aman kerajaan Majapahit. 
6) Negarakertagama, karya Mpu Prapanca disusun pada aman kerajaan Majapahit. 
7) Wretta Sancaya dan Lubdhaka, karya Mpu Tanakung yang disusun pada aman kerajaan Majapahit.

e. Bidang seni tari. 

Berdasarkan relief-relief yang terdapat pada candicandi, terutama candi Borobudur dan Prambanan memperlihatkan adanya bentuk tari-tarian yang berkembang sampai sekarang. Bentuk-bentuk tarian yang digambarkan dalam relief memperlihatkan jenis tarian seperti tarian perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng). 

Tari-tarian tersebut tampaknya diiringi dengan gamelan yang terlihat dari relief yang memperlihatkan jenis alat gamelan yang terbatas seperti gendang, kecer, gambang, saron, kenong, beberapa macam bentuk kecapi, seruling dan gong.

3) PERIODE KERUNTUHAN

Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu maupun Buddha di Indonesia mengalami masa kejayaan antara abad ke-7 sampai 12 M. Setelah memasuki abad ke-10 sampai abad ke-12, kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu maupun Buddha di Indonesia mulai mengalami kemunduran. Secara umum, faktor-faktor penyebab runtuhnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha sebagai berikut.

a. Terdesaknya kerajaan-kerajaan kecil oleh kerajaan-kerajaan besar.
b. Tidak ada pengaderan pemimpin sehingga tidak ada pemimpin pengganti yang setara dengan pendahulunya.
c. Munculnya perang saudara yang melemahkan kerajaan.
d. Kemunduran ekonomi perdagangan negara.
e. Tersiarnya agama Islam yang mendesak agama Hindu-Buddha.

Demikian artikel singkat saya tentang bagaimana perkembangan agama dan budaya hindu buddha di Indonesia, semoga bermanfaat. []

Post a Comment for "BAGAIMANA PERKEMBANGAN AGAMA DAN BUDAYA HINDU BUDHA DI INDONESIA?"

Berlangganan via Email